Semarang, Ibukota Provinsi Jateng yang tofografinya terbagi atas pegunungan (Semarang Atas) dan pesisir pantai (Semarang Bawah). Semarang atas memang tidak seramai Semarang Bawah, akan tetapi memiliki kelebihan : udara sejuk dan air tanah yang bersih. Semarang Bawah merupakan pusatnya Kota Semarang, sehingga kondisinya pun penuh dengan polusi, udaranya yang panas bahkan di malam hari, air tanah yang sudah banyak tercemar. Karena lokasinya yang dekat pantai, sebagian tempat terkadang terkena banjir Rob. Ngomong-ngomong masalah pantai, ada sebuah pantai yang terkenal di Semarang “Pantai Marina”. Pantai Marina terletak dekat dengan Pelabuhan Semarang. Rute dari Tugu Muda Semarang pilih jalan yang ke arah Jakarta, sampai pertigaan lampu merah PRPP belok kanan, lurus sampai bertemu jalan Ring Road belok kanan, lurus sampai ada sebuah perumahan elit belok kiri. Nama perumahannya lupa tetapi sebelum belok di kanan jalan terdapat bangunan unik, bangunan ruko yang arsitekturnya mirip bangunan-bangunan terkenal di Eropa.
Sedikit gambaran tentang Pantai Marina adalah pantai yang tidak ada pasirnya, karena pantai langsung dibatasi dengan tanggul (tanggul perumahan) dan tidak terlihat gelombang pantai khas pantai selatan. Menurut saya ini bukan yang disebut pantai. Lebih baik anda mengunjungi Pantai Maron. Pantai Maron Tidak Jauh dari Pantai Marina, di pertigaan lampu merah PRPP jangan belok kanan tetapi ambil yang lurus sampai pertigaan (ada markas tentara di kanan jalan) belok kanan, sampai bertemu dengan perumahan elit. Kebanyakan pantai di Semarang berada di balik perumahan-perumahan elit (yang sebenarnya itu merusak ekositem pesisir misalnya hutan bakau).
Gambaran mengenai pantai maron adalah pantai panjang yang dibelah oleh sungai, ombak yang tidak terlalu besar dan bukan pasir putih. Saya menyarankan untuk datang di sore hari untuk melihat Sunset yang indah. Sunset yang tidak kalah dengan di Pantai Kuta Bali. Di tambah dengan banyak pengunjung yang telah meninggalkan objek wisata ini, sehingga serasa pantai pribadi. Menikmati detik demi detik matahari yang hanyut ditelan laut, begitu indah dan fikiran serasa tenang & damai. Pengalaman yang tidak terlupakan dan sangat berkesan, sungguh besar kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
Ungkapan di atas mungkin terasa berlebihan, tetapi maksud hati cuma ingin mengungkapkan kekaguman pada keindahan dan keasrian pantai ini. Banyak orang yang menganggap bahwa “pantai klayar bagai surga di balik bukit”, “pantai klayar merupakan pantai terindah di deretan pantai selatan”. Menurut saya sebutan tersebut tidak berlebihan, setelah pada 31 Juli 2010 kemarin, saya menginjakkan kaki di pantai ini. Hamparan pasir putih yang luas, karang menjulang tinggi nan eksotis, ombat biru yang menggulung besar, air yang bewarna biru & bersih dan sifatnya yang masih asri & alami. Mungkin kata-kata itulah yang tepat untuk menggambarkan eksotisme pantai klayar.
Pantai Klayar berada di Kabupaten Pacitan dan lokasinya dekat dengan Goa Gong. Dari Kota Solo memakan waktu 3 jam dengan kecepatan standar 60 km/h, dapat di tempuh melalui rute Solobaru-Sukoharjo-Wonogiri (dianjurkan lewat Praci karena jalannya lebih mulus)-Pacitan. Ketika memasuki wonogiri dan Pacitan akan menemui jalan dengan medan yang naik turun gunung maupun hutan dan agak sulit menemui keberadaan Pom Bensin. Sekitar 3 km sebelum pantai, jalan utama “Ampun DJ” parah banget. Aspal banyak yang terkelupas bahkan ada yang tinggal tatanan batu-batu agak besar. Jadi perlu persiapan yang ekstra untuk menaklukannya.
Kelelahan dalam perjalanan hilang dalam sekejap setelah dari kejauhan, hamparan laut biru berkilau menyambut. Sebelum mengexplore pantai klayar lebih jauh lagi, saya ingin sedikit berbagi cerita mengenai perjalanan Tour d’Pacitan. Saya ditemani Bayu MU, Teguh Juve dan Too Barca berangkat dari Kos Vegas (Base Camp AN 06 di depan UNS) jam 8 sampai di pantai pas jam 12 siang. Sebenarnya bukan waktu yang tepat, karena panasnya semakin membakar kepala yang sudah penuh dengan kata-kata skripsi. Tetapi di balik semua itu ada hikmah bagi kami, Pantai Klayar serasa jadi pantai pribadi. Explore Pantai Klayar pun dimulai. Bukannya narsis, tapi foto-foto penting banget buat dokumentasi kenang-kenangan setelah kami mungkin akan meninggalkan kebersamaan di awal tahun 2011 untuk melanjutkan masa depan masing-masing. Bagi seorang kolektor seperti Bayu dan Teguh, berburu batu pantai, batu karang dan pernik khas lainnya sangatlah penting karena nilai jualnya bisa mencapai 7 M (bercanda,,, maksudnya 7 kebahagiaan buat para kolektor). Aku dan To o Hidden mulai mengexplore mulai dari ujung barat sampai di ujung timur. Selain melewati hamparan pasir putih, juga mendaki gunung di tepi pantai. Ada hal berbeda yang belum pernah ditemui, diantara bebatuan munculah semburan air dari sebuah retakan mungkin ini karena ganasnya ombak menerjang (seperti semburan ikan paus). Air yang mengalir dari bebatuan ada juga yang berasa tawar.
Pantai Klayar menunggumu secepatnya, sebelum keasrian dan kealamian pantai ini akan berubah.
Mungkin ada yang tidak setuju dengan ungkapan tersebut, tapi menurut pandangan pribadiku itu boleh saja. Tidak semua yang ada di Dineg, ada di Selo. Tapi Aku lebih melihat pada kesamaan panorama alam yang ada di Dieng dan Selo. Kesamannya antara lain : berada di antara dua gunung (Dieng : Sindoro-Sumbing, Selo : Merapi-Merbabu), Lahan berbukit-bukit yang sebagian besar digunakan untuk menanam buah dan sayuran, Panorama pegunungan yang indah & masih asri.
Mungkin banyak yang belum mengenal Selo. Disini saya ingin mencoba mendeskripsikan Selo dari berbagai sudut yang mungkin anda belum mengetahui semuannya. Selo berada tepat di tengah antara gunung Merapi dan Merbabu, terletak di Kabupaten Boyolali (atau sering dikenal dengan sebutan “Kota Susu”) di bagian paling barat dan berbatasan dengan Kabupaten Magelang. Kecamatan Selo merupakan satu-satunya kecamatan di Kabupaten Boyolali yang berada di pegunungan tinggi. Selo dapat di tempuh dari Boyolali Kota selama 30 menit dengan standar 60 km/h kendaraan pribadi maupun dengan kendaraan umum. Dengan kondisi jalan yang sudah bagus, tidak terlalu lebar (6 m) dan berkelok-kelok khas pegunungan.
Menurutku, Selo dapat dikatakan sebagai Dieng_nya Sekarisidenan Surakarta (Subosukowonosraten) karena mempunyai karakteristik yang hampir sama seperti yang telah disebutkan di atas. Selo memiliki berbagai tempat wisata yang wajib untuk anda kunjungi. Tempat yang paling terkenal untuk kawula muda adalah Irung Petruk City (IPC). Disini tempat tongkrongannya kawula muda yang berwisata ke Selo. IPC adalah sebuah tempat pemerhentian/peristirahatan yang berada di pinggir jalan yang agak melebar/menjorok kesamping. Dari tempat ini, memiliki view panorama yang sangat indah ketika melihat ke arah Timur. Serasa sudah berada di puncak gunung ketika melihat Boyolali, Solo dan sekitarnya dari atas dengan diselimuti awan. Mungkin karena inilah, tempat ini dijuluki Irung Petruk. Untuk melihat pemandangan seindah itu, anda tidak akan di tarik biaya dan biasanya ada 2 PKL yang menyediakan makanan dan minuman. Silahkan menikmati sepuasnya, mungkin sambil memikirkan “begitu besar kekuasaan Allah SWT”. Di samping IPC juga terdapat fasilitas Flyng Fox bagi anda yang ingin memacu adrenalin, karena berada di antara dua bukit yang di bawahnya adalah lembah yang cukup curam. Panjang lintasan yang lumayan jauh, mungkin sekitar 200 m kalau tidak salah. Masalah keamanan sudah terjamin sesuai standar.
Saat melakukan perjalanan dari Boyolali maka apabila anda menghadap ke barat akan disuguhi keindahan puncak Merapi yang terkadang terlihat sangat indah saat tidak tertutup kabut. Pemandangan juga tidak kalah menarik jika melihat ke kanan dan ke kiri. Hamparan tanaman sayuran yang berada pada tebing-tebing yang luas dan hampir memiliki kemiringan hampir 45 derajat dapat kembali menyegarkan kepenatan. Kalau anda beruntung, ada pemandangan yang lebih menarik ketika para petani sedang melakukan panen raya. Pemandangan yang mungkin tidak ditemui setiap waktu anda melakukan rutinitas masing-masing di kota anda.
Bagi Pecinta Alam, pendakian Gunung Merapi dapat melalui Pos Selo. Dari pos ini puncak Merapi yang mengeluarkan asap/awan sudah terlihat jelas apabila sedang tidak tertutup kabut. Dari pos ini akan melewati sebuah tempa wisata yang disebut “New Selo”. Tempat ini di resmikan pada era Presiden Megawati. Tulisan New Selo yang cukup besar terbentang di pinggang gunung, hampir seperti tulisan “Holiwood”. Dari tempat ini dapat melihat view panorama Merapi dan Merbabu yang indah dengan awan yang menyelimutinya. Ditempat ini ada sebuah gardu pandang dan beberapa kios pedagang. Di tempat ini, anda juga tidak akan ditarik retribusi, cukup membayar upah parkir. Akan tetapi saat ini tempat ini serasa kurang terurus. Mungkin karena dinas terkait kurang peduli.
Seperti halnya tempat-tempat lainnya, di pegunungan pasti menyimpan potensi wisata air terjun. Air terjun ini bernama Kedung Kayang yang berada di daerah Wonolelo. Sebelum menikmati indahnya di air terjun, anda terlebih dahulu harus melewati anak tangga sekitar 10 menit. Mungkin terasa lelah, tetapi sebanding dengan eksotisme air terjun yang ditawarkan. Keindahan air terjun Wonolelo tidak berbeda jauh dengan air terjun Jumog, tetapi ketinggiannya masih lebih rendah di banding dengan Grojoga Sewu yang ada di Karang Anyar. Akan tetapi ini tidak menjadi masalah, Air Terjun wonolelo dapat menjadi salah satu alternatif lain untuk menambah tujuan wisata air terjun. Tiket cukup murah Rp. 3.000 per orang.
Tradisi “Nyadran” setiap menjelang bulan Ramadhan. Kebanyakan warga Selo maupun Cepogo melakukan tradisi nyadran atau lebih dikenal dengan tradisi menghormati/mendoakan para leluhur yang telah meninggal. Pada waktu nyadran biasanya setiap rumah menyiapkan banyak sekali makanan untuk tamu (baik undangan maupun yang tidak diundang). Anda yang berwisata silahkan mampir di rumah salah satu warga dan bertamu seperti layaknya orang yang sudah kenal. Mereka (warga selo) pasti akan ramah dan mempersilahkan anda dengan baik, karena bagi mereka suatu kehormatan dapat kedatangan tamu yang semakin banyak. Acaranya lebih mirip ketika acara lebaran.
Sementara ini dulu yang dapat saya deskripsikan buat para pembaca yang pastinya suka berwisata. Semoga tulisan ini bermanfaat dan pastinya ditunggu kedatanggannya ke Selo serta tempat-tempat menarik lainnya di Boyolali.